2009/06/13

or "Art"grarian nor Agrarian

Tuntutan redaksi lovehatelifeinthemachine yang serba personal menjangkit epidemi burung hantu. Sang editor mulai sok ber-deadline, sang kontributor malah sibuk wirawiri tak jelas melirik para nona berbusana eksotis Hippies, sedang saya terjebak dalam substansi-substansi kultural.
Melongok pada kolam ikan dan arsitektur kepahitan, akhirnya memang terlintas bahwa puncaknya adalah dekadensi akademis. Merayakan kemanusiaan menjadi terlalu berbelit-belit. Tapi, tak apalah! demi identitas, superego, dan hal besar berupa eksistensi. Saya mulai harus mendesain korelasi euforis antara berkesenian dan ber-sains.
Beberapa hal yang menginspirasi saya adalah:

1) Memang tak bisa saya melepaskan nama sang Maestro Leonardo Da Vinci bersama rasio ajaibnya pada Vitruvian Man

Vitruvian Man - Leonardo Da Vinci

beserta seluruh jajaran seniman Renaissance lainnya.

2) Syahdan dan Ali Baba, saya tak habis takjub dengan video berikut



3) Atau menengok kembali sejarah musik eksperimental kota Jogja milik Jompet dan Venzha, Garden of the Blind. Mereka mampu menciptakan alat musik digital dengan sensor gerak. Memberdayakan perkakas-perkakas hasil industri yang tak banyak peduli bahwa benda-benda tersebut adalah amunisi musik dan art perform.

video

Serta masih banyak lagi ruang-ruang menyenangkan dengan New Media Art.

***

Beberapa hal di atas ternyata cukup menginjeksi saya untuk tidak lekas menyerah melanjutkan program studi saya, Teknik Industri. Meski beberapa materi kuliah bertentangan dengan hati nurani, surat peringatan DO sudah melayang dua kali, dan disiplin multideterministik yang membuat saya susah bernafas.
Karena saya yakin, masih banyak ladang untuk bercocok seni.

No comments: