2010/05/12

This is Not Love Story. This is A Story About Love


Saya memang cukup jarang mereview sebuah film di blog ini. Hal tersebut bukan mengapung karena tak ada film yang “bagus”. Yah, terlepas dari kapabilitas saya yang minim di bidang tersebut, tapi memang sulit untuk menemukan film yang cocok dengan tema ke-LoveHateLifeInTheMachine-an. Semangat awal blog ini adalah menyajikan karya-karya yang mengaduk-ngaduk emosi maupun pola pikir kalian, lewat media-media yang terwakilkan nama besar “Machine”.

Maksudnya tidak hanya cukup dengan kata “bagus”, tapi saya selalu berupaya memuat karya yang membuat marah, geregetan, benci, jatuh cinta, mempengaruhi pola pikir atapun keimanan, menganalisis tajam, dan mungkin malah malas (tertawa). Secara kolektif perasaan tersebut akan muncul dengan hanya kalian menatap pixel monitor untuk menyantap hidangan-hidangan sensasional yang ditawarkan dari blog ini.

***
Beberapa tahun yang lalu saya tergila-gila keranjingan setelah menonton film High Fidelity (Stephen Frears, 2000). Setelah itu saya terus mencari-cari film apa yang sepadan dengan itu sebelum datang penyesalan di alam kubur. Kesepadanan disini baik secara genre, kualitas, karakter, kecerdasan plot maupun pesan, dan tentunya pembawaan emosi penonton. Salah satu film yang patut kalian tonton selama masih hidup datang dari karya Marc Webb yang dirilis pertengahan tahun 2009. Oke! Mari kita mulai dengan membaca 500 Days of Summer bersama-sama! Bacaan tersebutlah yang dijadikannya judul film drama-komedi romantis nan fantastis ini.


“...this is not a love story...” narator memperingatkannya di awal cerita. Saya meragukannya. Hingga akhirnya menjelang akhir film saya sadari bahwa petunjuk itu ternyata akurat. Selamat terhisap dengan karakter yang dipolahkan Joseph Gordon-Levitt sebagai Tom Hansen dan Zooey Deschanel sebagai Summer Finn! Narator akan menggiring kalian untuk memahami perbandingan kepribadian mereka.


Saya pikir, lebih baik saya tidak bercerita tentang isinya (Spoiler Alert!)


Hanya saja, hal yang menarik bagi saya adalah ; di film ini, kedua tokoh utama (Summer & Tom) merasa tertarik satu dengan lain diawali oleh kecintaan mereka dengan band brit-indiepop/rock legendaris, The Smiths. Kemudian plot yang digunakan secara non-linier, melompat-lompat dari hari-488 kehari-2nd, lompat kehari -159, dan lompat lagi ke hari-hari yang tak akan kalian duga sebelumnya. Penambahan dramatisasi, kadang dilakukan dengan mengimbuhi animasi dan lagu yang lucu.


Selain nilai lebih yang bersifat umum tersebut, secara personal saya menikmati semua soundtrack yang ditawarkan. Hampir semuanya musik cutting edge. Si Tom, juga selalu ber-dress ala british invation, bahkan sering mengenakan T-Shirt bergambar artwork dari beberapa cover album milik band yang selalu saya puja, Joy Division.



Lalu mengenai Zooey Deschanel, oh dear! wut kinda flava should I’ve to give? She has got every-reasons to be adored by me. Funny, charming, arbitrary, different, dan dia juga vokalis&pianis dari sebuah band twee/folk/indie/pop, She & Him.

***

Marc Webb telah benar-benar membuktikan bahwa 500 Days of Summer bukanlah kisah cinta tradisional. Terbukti dengan pujian dari lebih dari 150 kritikus professional di seluruh dunia juga penghargaan di beberapa festival film besar.

Jika kalian berkali-kali tertidur ketika menonton film bagus sejenis Before Sunrise/Sunset, Eternal Sunshine at The Spotless Mind, Vicky-Christina Barcelona, Sideways, dan Curious Case of Benjamin Button. Saya pastikan, kalian tak melakukan hal yang sama ketika menonton film ini.

2 comments:

Anonymous said...

Saya justru mlh ktiduran buktinya entah karena suatu efek apa :p

Nur Wahid Budiono (Bandenk Metaphor) said...

Waduh-waduh! Masa si? berarti anda adalah pengecualian. Wahai Anonymous. :D