2013/07/13

Hinakah Bila Ramadhan Hanya Sebuah Ritual Menunggu Tabuh Bertalu?

Sudah lebih dari tiga kali sholat taraweh dan sahur. Saya masih saja belum percaya jika ternyata sudah bertemu bulan Ramadhan. Meski infeksi religi telah menjalar―seperti biasa―di stasiun-stasiun televisi. Di udara, letupan ilahiyah berseru penuh deru. Di jam-jam yang tertentu. Melalui pembesar suara yang sama mereknya, dari surau-surau. Dan harga-harga sembako yang mulai membumbung.

Saya hampir tak menyadari Ramadhan telah datang. Pada masa saya penuh dengan senggang. Bang Toyib belum juga ditemukan.

Saya tak tahu akan menulis apa lagi tentang bulan ini. Ide-ide seperti likuid yang dididihkan dalam bejana kaca nan rapat. Siap pecah tanpa selamat. Tercerai-berai tanpa memberi manfaat. Namun juga ingin menghindari karat. Diluar sana, berapa yang menunggangi bulan suci sebagai komoditas? Terlalu banyak. Sebanyak orang-orang baik yang istiqomah mendakwaahkan besarnya fadhilah-fadhilah. Lalu berapa permenungan yang menghakimi para pedagang? Juga terlalu banyak. Dimana sebaiknya saya berpihak? Pada pedagang atau hakim-hakim yang bijaksana?

Saya belum percaya sudah bertemu kembali bulan Ramadhan. Petasan yang meledak tak lagi mengagetkan. Ketika lapar bagi saya bukan lagi hal yang memilukan. Tentu kesemuanya adalah gejala akibat terlalu sering mengkonsumsi tetirah Goenawan Mohamad (GM). Berkali-kali di Catatan Pinggir (caping) dan beberapa suhuf di Tuhan Dan Hal-Hal yang Tak Selesai. Entah mengapa beliau begitu terobsesi dengan pemaknaan ulang puasa.

Yang selalu GM tandaskan adalah makna puasa dengan gaya lama. Gaya-gaya orang suci yang merayakan kekosongan. Kekosongan yang disemai pada lahan iman. Kemudian dibiarkannya makna seperti buah yang jatuh atas keputusan semesta. Berdebar-debar menikmati waktu, ia tabukan. Dalam bahasa yang sangat halus, GM menyimpan penistaan pada mereka yang dalam puasanya hanya merayakan penantian tabuh bertalu. GM menghardik keberlebihan momen kenikmatan manusia setelah seharian menahan―dengan label ketamakan.

Ia tampak seperti sutradara yang ingin menjadikan lakon puasa sedemikian tragis. Bahkan jika perlu, tragis itulah yang seharusnya dirayakan dalam pengalaman. Atau dalam kata lain segala upaya untuk mentas dari tragedi sesegera mungkin diapkirkan.

Saya belum percaya sudah bertemu kembali bulan Ramadhan. Semenjak tetirah GM seolah menyudutkan Abu Hurairah yang merawi hadis Nabi dengan bunyi: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh ‘ikhtisab’ maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim). Pada bagian ‘ihtisab’ inilah GM menafi. Mungkin karena beliau luput. Atau bisa juga karena maqom makrifat-nya. Selanjutnya saya  menggaris bawahi kata tersebut.

Berkata dasar ‘hasaba - hisaban’ yang berarti ‘menghitung – hitungan’. Tambahan (ziyadah) huruf ‘alif’ dan ‘ta’ menjadikannya kata transitif ‘memperhitungkan – perhitungan’. Beberapa ulama ―salah satunya adalah Syarh Al Bukhari Al Ibni Baththol, 7: 22―menafsirkan ihtisaban sebagai transaksi yang hanya kepada Allah. Beberapa mengartikannya dengan disiplin, perencanaan, taat aturan. Saya menyukai semua maknanya. Dengan tak lupa menambahi penekanan ‘ihtisab’ (memperhitungkan) terhadap kaidah waktu. Kapan waktu untuk menahan, kapan waktu diperbolehkan melampiaskan. Dihitung dan direncanakan.

Oya, sebelumnya perlu diketahui tambahan info ini: Arti ‘Puasa’. Menunjukkan juga puasa tak dapat dilepaskan dari kaidah waktu pelaksanaan. Mulai jam berapa sampai jam berapa, hari, bulan, atau waktu-waktu tertentu. (Baca penjelasan singkat namun padat mengenai makna puasa oleh mas Radit disini)

Saya teringat pada lakon Rubah dalam cerita karangan Antoine de Saint-Exupéry. Sang Rubah mewejangi si Pangeran Kecil,

“It would have been better to come back at the same hour,
If, for example, you come at four o’clock in the afternoon, then at three o’clock
I shall begin to be happy. I shall feel happier and happier as the hour advances.
At four o’clock, I shall already be worrying and jumping about. I shall show
you how happy I am!..”

Ada degub harapan dalam perjanjian. Ketika waktu mendekat untuk dicegat, tersimpan dalam hati seorang Penunggu semacam kebahagiaan. Mudah mengandaikan bila orang yang puasa adalah rubah. Sedangkan berbuka adalah seorang pangeran. Lalu mereka saling berjanji untuk bertemu pada satu waktu. Maghrib. Mendekati maghrib, bagi seorang puasa pasti membahagiakan.

Betapa puasa membuat hal sesederhana menunggu maghrib begitu membahagiakan. Hal-hal yang terlewat pada bulan-bulan lain. Berupa pemaknaan kembali kebahagiaan menyantap makanan-minuman. Ketika tabuh berbunyi, menu apa pun terasa menggugah selera. Nasi digarami tak akan pernah senikmat saat berbuka puasa.

Senada dengan petuah pemimpin tertinggi agama Islam, “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi).

Lalu apa masalahnya dengan ritual menunggu tabuh bertalu, Mas Goen? Toh dalam menunggu, mereka (orang yang puasa) telah menahan. Bukankah, salah satu SOP puasa berbunyi “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) yang berarti bergesa. Sungguh saya siap dilaknat jika ada ketergesaan tanpa kesadaran tentang waktu.

Mereka hanya menjalankan tetirah agamanya. Untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana saat berbuka. Mengapa Mas Goen yang bijaksana harus menyudutkan mereka?

***
Lucunya, saya menulis ini dengan gaya bahasa yang mencoba meniru gaya GM. Meski gagal. Tapi kok saya seperti teriak anti-amerika sambil minum pepsi jadinya. Dan, ya Allah. Saya kok mirip para bigot yang mendakwa esai-esai dengan nukilan dalil naqliy. Yo ben lah timbang rasido nulis.

Oya, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakan.
Rayakan apa saja yang membahagiakan. Antara kamu-Tuhan.

2 comments:

Rahadityo Mahindro Bhawono said...

Ramadhan ya nunggu diskonan dong, masbro :p

Nur Wahid Budiono said...

Wah iya ya.. nulisnya pas agak jauh dari lebaran sih :D