2013/07/14

Mengawini Tembok

Nindita Hapsari adalah nama dari seorang gadis mungil yang manis. Dita panggilannya, satu almamater dengan saya. Meski mungil dan manis, dia adalah tukang insekyur, eh insinyur, yang saat ini bekerja di perusahaan Si Doel, Trakindo. Di perusahaan itu, dia dulu masuk sebagai Junior Engineer. Habla Kartini!

Suatu kesempatan Dita bertanya-tanya perihal destinasi wisata bernama Bromo. Obrolan kami lakukan via aplikasi pesan pada mesin kecil yang pintar. Saya pun menjawab setahunya. Ah, itu tidak penting ditulis disini. Karena ada yang lebih substansial untuk dibahas di blog permesinan hidup ini. Yakni ketika sampai pada bagian akhir percakapan, Dita bertanya ihwal kapan saya menikah. Jawaban saya pun hanya ‘belum’. Kemudian ada basa-basi darinya berupa anjuran untuk tidak menunda-nunda.

Oke Dit! Saatnya saya tanya balik. Dengan pertanyaan yang sama. Inilah jawaban Dita,

Teks yang kiri berasal dari Dita, dan yang kanan dari saya.


Nikah sama tembok ya? Ahey!

Ditempat dan waktu yang lain, Eija-Riitta Berliner-Mauer telah melakukan hal tersebut. Pada tahun 1979 perempuan―yang menggunakan nama yang berarti tembok―tersebut memutuskan untuk menikahi tembok Berlin. Tentu dia telah didiagnosa dokter dengan kelaianan bernama Objectum-Sexuality. Sebutan bagi orang yang memiliki orientasi seksual terhadap benda-benda tak bernyawa. Menurut dokter, kelainan perempuan berkebangsaan Jerman tersebut telah berakar pada masa kanak-kanak.

Eija mengaku pertama kali jatuh cinta dengan benda saat berumur 7 tahun. Ketika ia melihat televisi. Kemudian ia mengumpulkan gambar-gambar di dinding. Menyimpan, memuja, dan mencintainya. Hingga pertemuannya pada tembok Berlin di tahun 1979. Tak lama, ia pun mengaku telah menikahi tembok tersebut. Entah bagaimana mereka berhubungan suami-istri selama 29 tahun. Sebab nyatanya, Eija tetap perawan hingga akhirnya sang suami (tembok Berlin) itu dirubuhkan pada 1989.

Mungkin hanya Eija orang Jerman yang berduka kala itu. Ia meratap histeris namun tak dapat berbuat apa-apa. Hingga akhirnya Eija pun harus melupakan ‘suaminya’ yang telah tiada. Eija berhasil move-on  dengan jatuh cinta lagi, pada pagar kebun.

Courtesy www.shortfilm.com sebagai pemilik foto

Lalu apakah Dita akan mengikuti jejak Eija? Itu terserah Dita. Tapi bila misalnya tidak berhasil mengawini tembok, mungkin pagar kebun bisa jadi opsi menarik. Demikian semoga tulisan ini tidak bermanfaat.

***

Biografi Eija-Riitta Berliner-Mauer dapat ditelusuri pada media Inggris bernama Telegraph dan atau pun Google.

1 comment:

Nur Wahid Budiono said...

NB: Kata Dita, ia tak tertarik mengawini pagar kebun. Karena takut si pagar akan memakan tanaman.