Showing posts with label Bebas. Show all posts
Showing posts with label Bebas. Show all posts

2013/08/04

Burung Parkit

Foto 1
Foto 2

Selain angle pengambilan gambar, apa beda antara dua foto tersebut?

Benar. Jumlah burung parkit yang berbeda. Burung parkit dalam foto pertama berjumlah empat ekor (dua pasang). Sedangkan foto kedua, ada satu burung (warna hijau) yang kesepian.

Dua foto tersebut merupakan burung dan sangkar yang sama. Milik Janu, adik saya. Ia memelihara burung parkit itu sejak sekitar empat bulan yang lalu. Dua bulan kemudianentah bagaimana caranyasalah satu burung bisa kabur dari sangkar besinya. Secara misterius.

Kata orang-orang (termasuk adik saya), parkit dan beberapa burung yang tipikal peliaraan, tak akan mampu bertahan hidup lama bila mereka kabur. Mereka tak terlatih menghadapi alam liar. Disela kata-kata itu kami merunduk lunglai karena sedikit sedih. Terutama Janu yang telah membeli burung parkit itu dengan uang pribadinya.

Glek!

Saya lantas bersandar pada kursi. Melamun sekilas. Teringat akan salah satu fragmen dalam film The Way Back (2010). Yakni ketika segerombol narapidana Soviet era komunisyang menjadi tokoh-tokoh utama film tersebutberistirahat diantara pelariannya. Para residivis tersebut kabur dari naudzubillah biadabnya penjara Siberia rejim Stalin.

Pada hari kedua. Mereka berpencar mencari dahan kering untuk dibakar. Sebagai bahan pertahanan dari amuk dingin daratan salju Siberia. Senja pun lengser. Kazik, satu dari gerombolan yang memiliki rabun senja, ternyata bernasib buruk. Ia tak dapat menemukan jalan kembali pada kawan-kawan pelarian lain. Tak butuh waktu lamatubuh Si Rabun pun diamuk kebekuan salju.

Teman-temannya segera mencari Kazik setelah curiga tak juga kembali. Mereka baru bisa menemukan Kazik saat ia telah mengajal karena beku. Seketika kesedihan pecah. Beberapa orang tak mampu untuk menahan histeri. Namun tentu sajasebagai para residivissebagian dari mereka menyisakan jiwa batu yang enggan meneteskan airmata.

Teruntuk Kazik yang meninggal dalam pelarian, tokoh yang bernama Janusz berkata di pemakaman dadakan itu,
A free man died here today.
Burung parkit milik adik saya pun sama. Bila ia mati karena kaburnya, maka ia telah mati sebagai burung yang bebas.

2011/08/27

Idul Libido

Pemilik hak gambar


Nasrudin muncul di balairung istana dengan turban indah untuk meminta sumbangan.

“Kau datang ke sini minta sumbangan, tapi kau memakai turban yang mahal. Berapa harga turban indah itu?” Tanya Sultan.

“Ini hadiah dari orang yang sangat kaya. Kalau tidak salah, harganya lima ratus koin emas.” Jawab sufi bijak tersebut.

Patih yang berada di tempat itu bergumam: “Mustahil. Tidak ada turban yang harganya semahal itu.”

Nasrudin bersikeras:

“Aku bukan hanya datang ke sini untuk meminta-minta, aku juga ingin berbisnis. Aku tahu hanya penguasa sejati yang sanggup membeli turban ini seharga enam ratus koin emas sehingga aku bisa memberikan kelebihannya pada orang miskin.”



Bulan ramadhan yang diwajibkan kaum muslim untuk berpuasa, hampir habis. Tinggal hitungan jari salah satu tangan – kita tahu rutin puasa pada hari-hari bulan ini segera berganti. Idul fitri adalah momentum transisinya. Ia adalah perayaan – sebuah bingar selebrasi atas kembali utuhnya raga setelah bulan yang membuat manusia menjadi “sing liyan” (yang lain) dari fitrah kemanusiannya.

Menahan diri dari makan, minum, nafsu, amarah, hasrat, libido, dsb – sekilas tampak bukan manusiawi. “Seks sama berharganya dengan ajal,” kata Foucault yang menasbihkan bahwa tanpa libido, manusia telah menemui ajal.

Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.Sehingga layak jika diartikan Idul Fitri dengan kembalinya manusia ke tabiat semula.

Iya, tabiat semula – manusia selalu ingin memiliki sesuatu yang dibanggakan. Manusia sering putus asa jika diri mereka tidak terlihat lebih sukses dalam hidup ketimbang orang-orang di lingkungan sosialnya. Lumrah jika momentum pertemuan yang massif namun sporadis di negeri ini, idul fitri contohnya, bak menjadi perayaan peragaan kebanggaan.

Tanpa saya paparkan pun tentu kalian sudah paham luar-dalam. Kalian sudah tahu jika di setiap hari raya ada kerabat yang menanyai pekerjaanmu, sekolahmu, anakmu, gajimu, uangmu, bisnismu, kendaraanmu – yang tentu saja kalian tahu itu adalah basa-basi yang menyerang. Tentunya sang penanya dalam posisi yang lebih jumawa. Setelah kamu menjawab pertanyaan rutin tersebut, barulah kerabatmu akan bercerita tentang bagaimana kesuksesan anak-anaknya disekolah hingga bagaimana mereka telah mampu menghasilkan uang hingga mencapai finance freedom.

Saya menahan diri dari bertele-tele menulis rutinitas lebaran. Karena pada dasarnya, perayaan adalah perayaan – dan yang sedang dirayakan adalah kembalinya sisi kemanusiaan yang serba duniawi.

Kita akan kembali boleh makan, minum, hingga bersenggama dengan pasangan sah, kapan saja seenak perut. Kita akan segera memakai pakaian yang baru saja dibeli dari department store atau pun butik ekslusif untuk menutupi kekurangan-kekurangan kita. Tidak masalah. Namanya juga hari raya. Bebas!

Hasrat memang merupakan anugerah spesial yang dimiliki manusia – dan hari raya seringkali menjadi pengukuh yang membenarkan keberadaannya. Untungnya – Idul Fitri, hingga hari ini masih menjadikan tradisi melapangkan dada, berzakat, dan silaturahim sebagai kaidah utama. Berarti hari raya bukan melulu tentang kebebasan menikmati kembalinya hasrat, namun (semoga) juga menjadi perayaan dari kebebasan diri dari penyakit-penyakit hati – yang akhirnya menjadikan akal sehat adalah anugerah lain manusia yang sepadan dengan hasrat.

___________________________________________

Mendengar paparan Nasrudin, sang Sultan tersanjung dan membayar jumlah yang Nasrudin minta. Di pintu keluar, Nasrudin berkata pada sang Patih:

“Kau mungkin tahu harga sebuah turban, tapi aku tahu seberapa dahsyat dampak kesombongan manusia.”