2009/04/27

yang lama. yang menyegarkan.

Siapa bilang hal yang segar musti datang dari yang baru. Nyatanya, paling tidak bagi saya, berbulan-bulan berpacu kegundahan melawati cuaca tersayat drone guitar maupun badai reverb. Mungkin telinga saya mulai bosan. Shoegaze, postrock, postmetal, postpunk, dreampop, blisspop, dan atau nada sadcore sejenis tak lagi menjadi bloody anthems bagi saya beberapa hari terakhir. Imbasnya, reportase tragedi sedikit tersendat mengucur.

Belum pernah ada yang merekomendasikan kepada saya dengan tepat apa yang sebaiknya saya dengarkan selanjutnya. Yeah finally, setelah membongkar perpustakaan noise di folder musik komputer saya, I’ve found old mystic canal, the way to the bloody beyond life. Berjudul “The Battle of Overmore” yang saya dengarkan dari album IV”, merupakan salah satu hymn dari band yang bongkahan jantung mereka sempat terpasung di wall of rock n roll fame. Here they are! the Lord Zeppelin.


Dimulai dengan intro yang fade in sequence guitar dari Jimmy page, ber-ambient, namun tetap kental akuistik. Lalu masuk vocal Robert Plant berbarengan dengan rhythm. Tegas, berat dan malah terasa gelap bagi saya. Secara repetitive terasa reversible menggema part demi part. Suara latar terdengar koor-koor bagai musik gospel. Rhythm menghentak sesekali seperti tersambung antara saman yang memimpin Odin (semacam ritual suku Indian) dan hentakan Leak di altar homasi. Repetisi dalam lagu ini memacu curiosity seperti saat mendengar band-band math rock sejenis Polvo, Slint, A Minor Forest, dan Battles. Atau bahkan genre muda shibuya-key sejenis Cibo Matto ataupun Cornelius. Bedanya, kali ini minus beat drum. Dan scream pada bagian akhir mengahabisi emosi saat kita geram bagai post-metal dan post-rock. Sulit sebenarnya bagi saya menggambarkannya, komparasi hanya bersifat subyektif pastinya. Dan tentang lirik, lets see!!!

Queen of Light took her bow
And then she turned to go
The Prince of Peace embraced the gloom
And walked the night alone.
Oh dance in the dark of night
Sing to the morn ing light.
The dark Lord rides in force tonight
And time will tell us all.
Oh throw down your plow and hoe
Rest not to lock your homes.
Side by side we wait the might
Of the darkest of them all.
I hear the horses' thunder
Down in the valley blow,
I'm waiting for the angels of Avalon,
Waiting for the eastern glow.
The apples of the valley hold,
The seas of happiness,
The ground is rich from tender care,
Repay, do not forget, no, no.
Oh,-------dance in the dark of night,

sing to the morning light.
The apples turn to brown and black, The tyrant's face is red.
Oh the war is common cry, Pick up you swords and fly.
The sky is filled with good and bad
That mortals never know.
Oh, well, the night is long, The beads of time pass slow,
Tired eyes on the sunrise, Waiting for the eastern glow.
The pain of war cannot exceed
The woe of aftermath,
The drums will shake the castle wall,
The ring wraiths ride in black, Ride on.
Sing as you raise your bow,
Shoot straighter than before.
No comfort has the fire at night
That lights the face so cold.
Oh dance in the dark of night,
Sing to the mornin' light.
The magic runes are writ in gold
To bring the balance back, Bring it back.
At last the sun is shining, The clouds of blue roll by,
With flames from the dragon of darkness
The sunlight blinds his eyes

Thanks god, you’ve sent this genius band to the earth.

2009/01/27

The Whitest Boy Alive Guest became Replacement

Fast Forward Record and Aksara Record
The Whitest Boy Alive Guest became Replacement
Gedung RRI Bandung, Jl. Diponegoro No. 61 l December 6th, 2008

Baiklah. Ini adalah peletakan bongkah batu pertama penanda resureksi yang saya janjikan hampir satu bulan sebelumnya. Sebenernya, bagi kalian yang tinggal di Jogja, liputan iseng ini bisa kalian baca di DAB Free Music Magazine #5.

Saya memastikan diri berangkat ke Bandung untuk menghadiri Jens Lekman Kortedela Beauty Centre Tour 2008 karena mendapat SMS dari seorang kawan, Juwita namanya, bahwa The Whitest Boy Alive (WBA) juga akan tampil bersama. Sekedar info, WBA adalah band side project folk-dance/indiepop asal Jerman oleh para musisi yang sudah eksis seperti Erlend Oye (guitar and vocals), Marcin Oz (bass), Sebastian Maschat (drums), Daniel Nentwig (rhodes and crumar).
The Whitest Boy Alive

Sayang sekali, Jens Lekman, solois indiepop asal swedia yang batal datang karena terhambat masalah Flight di RRC. Namun acara tetap berlangsung dengan WBA beralih sebagai bintang utama dan venue tetap sesak. Band-band indie lokal

Astrolab,

Hollywood Nobody,

dan
Homogenic

sukses menjadi warmer up.

Malam itu WBA tampil dengan sangat memukau. Penampilan WBA penuh improvisasi, komunikatif, atraktif, dan set instrumen di stage yang tak biasa (menempatkan semuanya sejajar di depan) membuat sangat sulit sekali bagi saya dan ratusan crowds untuk tidak terkesan dengan aksi panggung WBA malam itu. Berkali-kali saya terangguk jumawa tak terkendali bahagia dengan keberuntungan tersebut. Bahkan Erlend Oye sempat menarik tangan salah seorang crowd wanita untuk berdansa bersamanya di atas stage. Unforgettable show, anyway.

Selanjutnya saya akan lebih membahas tentang kesenangan-kesenangan hedonis sehari-hari saya, seperti ; film yang saya anggap bermutu, proses kreatif pada beberapa lirik, cerpen, atau puisi bodoh saya, buku yang saya baca, tempat-tempat yang memukau, dan bla bla bla yang saya inginkan kalian tahu dengan atau tanpa kalian butuhkan atau pun inginkan.

2009/01/04

Self-retrospection…Discovering then Resurrect.


Setelah berbulan-bulan mengemban wajib militer laduni, dikirim menjadi serdadu yang dipaksa mengokang senjata di kurusetra alterego. Lelah mencari komando koordinat paling tepat pada posisi mana saya harus menjaga garis demarkasi. Berimbas kegagalan membunuh ketakutan diantara pusara justifikasi pada gigir pesakitan. Entahlah, memusuhi bengisnya Ken Arok mungkin terkadang merupakan suatu kebodohan, atau malah itulah label kejantanan dijadikan thaghut.

Saya tak sehebat Nietzsche, Syd Barret, ataupun Jean Paul Satre yang dengan cerdas meramu setiap jengkal kegelisahan menjadi amunisi mematikan bagi ledakan sompalan sejarah. Lebih jauh lagi dengan nabi kegelapan, Ian Curtis, menyergap epilepsy dan perselingkuhan berkomparasi kawat jemuran. cuiiih . hijrah kepengecutan yang tak akan sudi saya sembah.

Saya berkali-kali buta, menjelajahi kuis-kuis lembab korset. Karena pendulum eksponen cinta semrawut semakin homogen. Pada cadar yang kebablasan, sungai yang karam, dan perahu tapal kuda dari pelataran kuku ujung palka.

Akhirnya berkat berbagai petuah dari kawan-kawan begitu intim personal yang saya akui otak busuk ini kurang serat, lambat mencerna. Keputusannya adalah membumi ulang jasad. Pada wujud pelik niscaya bahwa perwujudan kadang hampa dan berlaku sebaliknya, kehampaan juga memiliki wujud.

Bahasa yang lebih mudahnya; orang bijak pernah berkata “Kita harus selalu tahu, kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan makna bagian hidup kita selebihnya dan terkabur dalam melihat jalan mana yang sebaiknya kita tempuh. Dan ada resiko Tuhan akan mengguncang-guncang kita lebih hebat.”