2010/08/23

Bewitching East Java


I'm among of those who believes that traveling is a form of devotion to God, whatever the religion that we hold. So when the Campus holiday has started, impulsively I decided to spend it with a little trip of town out.

East Java was the purpose. Surabaya was the first city I visited. Picked up by Dwi Ardiyanto at Wonokromo station. Then the next days Ayos Purwoaji took me around the Old City, Bungkul park, Ampel region, Suramadu Bridge, until Jember (town of Ayos domicile).

I took some photos which mostly poor results and failed. These are some early pretty decent in my opinion. hehehe. So, for further, let the P(h)oet(o)ry will describe it.


A moment passed by some reasons
An enchanted wandering boy of seasons
The sin of eye follows thunder
The sea of sad is hollow and bitter
________________________________________________________

Hey fellas! You guys so tremendous
Then all of the roads looked pretty stupendous
Where I found the hearts which feel no suspicious
________________________________________________________

The words are in vernacular
When the humble of indigenous so spectacular
_______________________________________________________

Top of hills are so chill
You’ll faint then get unconsciousness
The wises will come after bill
Every Saint must had a weakness



Note :
Especially thanks to Ayos Purwoaji and Dwi Ardiyanto, I'd bothered you many times mates! Nuran Wibisono, Dwi Putri Ratnasari, and Rina Fariana, for a warm friendship. : D

2010/07/06

P(h)oet(o)ry In Introduction


Geser manismu menuju netra.

Inkubasi warna dari wicara.
Reposisi kasar menuju rungu.
Jerat tajam hingga menjadi bau.

Sebelum musim hujan selamanya memudar, riwayat cahaya kami jadikan rindu.


Yah, begitulah kira-kira saya memeperkenalkan tema baru di blog ini. Sebuah kamera digital pocket murah yang saya beli beberapa hari lalu menimbulkan euphoria tersendiri. Dikarenakan segala keterbatasannya, terpaksa saya menyajikan hasilnya dengan cara lain, Puitisasi foto. Meskipun tidak akan menutup kemungkinan kedepannya bukan hanya puisi (saja) yang menjadi bahan adonan P(h)oet(o)ry*, namun mungkin juga prosa, cerpen, maupun tulisan imaginatif lain.

*Photo + Poetry = P(h)oet(o)ry.
==========================================================
Lokasi : Pasar Kangen @ Taman Budaya Yogyakarta 2010

Tengoklah igauan masa mudamu!
Ketakutan belum kau gadaikan.
Sepuhan gerigi mempertajam alas kaki telanjang ranjani.
Tanpa harus mampat pada ketidakmampuan bertranslasi,
di bawah ketam jerami realita dan replika samar bergradasi.


Oh indahnya tanpa tahu koorporasi.
Rakitan kidung tak semiris seperangkat digital imporan.
Serupa kanal bising dengan arwah John Lennon,
rupanya irama adalah bagian tubuh kita.


Kita mampu meneguk lagi keringat asam cahaya.
Mengayuh demi waktu yang mulai mencekikmu.
Sebelum paru sesak oleh beratnya karbonasi pekat logam dan asap tebal.


Tuangkan etanol dan atau gliserol secukupnya wahai pemuda!
Peluhmu takkan cukup menggapai semua konstruksi kota.
Mungkin sebaiknya kau juga harus berteduh sesekali.


Atau mengeja aksara guna, menguasai imajinasimu setajam belati.
Hingga akhirnya kini mampat pada kotak flatron 19 inci.


Hari-hari itu, terkuas di atas genting senja berwarna.
Terpatri,
dan abadi.

2010/06/06

Tripping Junkie - Quasars


Well, jika kamu membaca postingan sebelumnya, maka kamu telah tahu kalau ini adalah tulisan bayar hutang yang baru terlunasi setelah sekian bulan. Akhirnya mau atau tidak ini tetaplah h u t a n g. Tidak bisa ditunda lagi membayarnya. you know lah! sebelum pengikut artis lipsing dadakan semacam Shinta & Jojo akan ramai-ramai memenuhi petak televisimu bagai pembalakan liar hutan (*loh?). Yah, meskipun fenomena tersebut bukan buruk sepenuhnya. Lagian itu juga bentuk terealisasinya kalimat "...In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." (Andy Warhol, 1968). Tapi mungkin ada baiknya kita menghargai personal-personal yang gigih untuk terus berproses.

Kembali ke Tripping Junkie (TJ) album Quasars. Kamu pernah mendengar band-band semacam The Hives, The Strokes, Black Rebel Motorcycle Club, hingga Jenny ? yap! Sounds of garage/neo-psychedelic/rock adalah benih band ini, atau khususnya album ini.

Tapi layaknya ketika kamu menggigit kurma yang ditanam dipekarangan rumahmu. Meskipun benihnya asli dari Timur Tengah, jangan harap rasanya sama persis. Demikian jika kamu korek kupingmu lebih bersih setiap habis mandi. TJ, yang semua ari-ari personelnya ditanam di Nusantara (kecuali Asad, saya tidak yakin. hehehe Joke!). TJ sendiri lahir & bertumbuh kembang di kota gudeg ini, maka jelas mereka tidak akan membuahkan musik yang sama persis dengan benih mereka.


Mari kita buka! Pertama, adalah cover CD album. Begitu tidak konvensional. Menggunakan metode lipat yang unik. Kedua, tema bahasan lagu beragam. Mulai dari perkenalan pada "In The Beginning". Percintaan dan cerita entah yang dibalut imajinasi absurd khas psychedelic pada hampir setiap tracks. Hingga Kesadaran ekologis pada " Suvenir Abad Batu" dan "Besi, Baja, dan Perak". Ketiga, kualitas sound dan aransemen. Overall sounds not bad! aransemen dari progressive chord hingga beat drum yang menurut saya menarik, janggal, namun menunjukkan karakter band adalah pada " Hyena", "Novus Mondus", "In The Beginning", dan"B.E.T.A". Merangsang otot kerut dahi!

Meskipun pada track "Besi, baja, dan Perak", pemilihan penggalan kata cukup mengganggu bagi saya, namun sekali lagi proses itu menyenangkan kawan. Kalian yang pernah nge-band akan benar-benar paham maksud saya.


Tracklist:
01. In The Beginning
02. Blushy
03. Drakula Wanita
04. Novus Mondus
05. Hyena
06. The Dancing Dwarf
07. Besi, Baja, Perak
08. B.E.T.A
09. Suvenir Abad Batu
10. This How I Spent My Life

Download Album!

dan jika kamu menyukai album ini, segeralah mencari CD mereka!