2012/04/15

Tong (yang) Kosong


“Peribahasa tong kosong nyaring bunyinya, berarti orang-orang yang tak berilmu biasanya banyak bicara.” Kenang saya pada ajaran guru SD belasan tahun lalu.Saya memang gagal melacak kapan tepatnya rakitan pengertian tersebut mulai eksis – yang jelas, tancapan paham telah mengakar dan juntaian interpretasi telah membelukar di banyak otak. Keadaan bunyi yang disifati “nyaring” sampai saat ini berlaku sebagai momok. Nyaring terlanjur diambil alih oleh muatan negatif – dan sesak. Sehingga mengabaikan banyak titik lain yang tersebar di luar bahkan lebih besar.
... peribahasa berasal dari ‘pengalaman umum’ dari beberapa tokoh dalam suatu suku. Artinya, beberapa tokoh melakukan penilaian, penelaahan, observasi, atau eksperimen, lalu hasilnya diungkap dalam bentuk kalimat singkat, lalu kalimat singkat itu diwariskan secara temurun dari generasi ke generasi lewat tradisi lisan sebagai ‘peribahasa’. (Ferry Hidayat, 2004)

Nampaknya orangtua dan anak muda memang sebaiknya tak pernah selesai berselisih. Bagi saya, mereka (orangtua) memiliki caranya sendiri untuk selalu menjengkelkan. Namun terus-terusan berdiri pada garis demarkasi berlabel oposisi juga terasa tak bijak. Lantas ada baiknya saya menengok ulang kalimat di tahun 60-an:
First of all, to understand truth you must stand alone, entirely and wholly alone. No Master, no teacher, no guru, no system, no self-discipline will ever lift for you the veil which conceals wisdom. Wisdom is the understanding of enduring values and the living of those values. No one can lead you to wisdom. (Krishnamurti)

Kembali pada keterlanjuran eksistensi interpretasi – tong kosong nyaring bunyinya. Saya takut hal tersebut hanyalah efek domino dari tragedi duel antara Demosthenes dan Aeschenes. Bahwa banyak berbicara hanya berujung kenistaan seperti yang dialami Aescenes, sang kalah. Lebih buruknya, adalah upaya pembungkaman secara ramah. Toh budaya peribahasa memang lahir di jaman monarki sedang kokoh berdiri. Ia tentu patut dicurigai memiliki muatan legitimasi sang penguasa. Tentunya banyak berbicara yang lebih-lebih beradu pendapat, bagi golongan non-bangsawan, terutama buruh pekerja kasar – adalah perbuatan yang tak elok. Golongan tersebut mungkin jika digambarkan dalam budaya jawa, harus selalu nrimo ing pandhum.Berbicara Adalah Kata KerjaHampir setiap bahasa menggolongkan kata ‘berbicara’ sebagai kata kerja. Lantas, mengapa hingga saat ini ‘bicara’ seolah menjadi antonim ‘bekerja’ ? Bukankah lebih baik jika keduanya diposisikan sebagai hiponim dan hipernim?Banyak pelaku ‘bicara’ (pembicara) memang tak menguasai sepenuhnya apa yang ia bicarakan, sehingga tak terelakan untuk dikecam. Kecaman pada akhirnya melulu pada kalimat saran kuno ‘jangan banyak bicara, banyaklah bekerja secara nyata’. Kemasygulan disini terdapat pada seolah bicara merupakan bukan bagian dari kerja nyata. Mungkin sang penasehat masih patuh pada makna kasat bahwa ‘bekerja’ adalah upaya yang dilakukan oleh tangan dan kaki (secara fisik). Pertanyaan saya lanjutkan dengan jika ‘bekerja’ masih menjadi antonim ‘bicara’, benarkah posisinya lebih tinggi?–1909, Frank Gilberth mempublikasikan papernya yang terkenal “Bricklaying System”. Ia merekam kegiatan pekerja yang sedang mendirikan sebuah tembok dari batu bata. Ia mengamati dengan detail hasil rekamannya (motion study). Kemudian bersama istrinya, Lilian Gilbert – mereka mengklasifikasian gerakan dasar manusia ke dalam 17 macam, dimana ada gerakan yang efektif dan ada yang tidak efektif. Mereka menamakannya Tabel Klasifikasi Therbligs (ejaan terbalik dari kata Gilbreth). Gerakan-gerakan yang masuk klasifikasi tak efektif, ditetapkan sebagai waste dan pemborosan yang sebisa mungkin dihilangkan.



Penghilangan atau setidaknya pengurangan gerakan tak efektif tersebut diklaim akan mampu memberi manfaat lebih optimal pada perusahaan.Hingga usia pernyataannya yang telah mencapai satu abad, klasifikasi gerakan Terbligh masih dijadikan panutan oleh para insinyur industri. Ia teruji berkali-kali. Bahkan ia tak melulu dipandang dari sudut eskalasi nilai ekonomi moneter, namun juga menilik dampak keselamatan pekerja – yang menyentuh sisi kemanusiaan. Dengan demikian, tak hanya ‘bicara nyaring’ yang identik dengan kosong – bekerja (dalam arti gerak) juga tak pernah berarti murni sebagai negasi.Jika Tong Kosong (Tetap) Nyaring BunyinyaJalaludin Rakhmat (2002) pernah mengutip artikel Y.B. Mangunwijaya, “banyak orang keliru menganalisis seolah-olah kemajuan dunia Barat bertopang primer pada metematika, fisika, atau, kimia. Namun, bila kita mau dalam lagi menyelam, maka kita akan melihat bahwa, kemampuan luar biasa Barat dalam hal ilmu-ilmu alam mengandaikan dahulu dan berpijak pada kultur berabad-abad pendidikan bahasa. Berakar pada filsafat Yunani yang bertumpu pada retorika.” (Kompas, 11 Agustus 1992)Seketika memori saya terhenti pada jargon komersial, “Talk less do more!” Dibalut adegan pembicara kosong yang banyak rewel tak mampu menyelesaikan masalah – kemudian datanglah seorang dengan kerja nyata mampu merampungkan dengan apik.Jargon tersebut berhasil menahbiskan kemuliaan banyak kerja fisik. Sekaligus berarti pelekatan stigma pada pembicara. Secara patah – dalam bentuknya yang ideal. Ideal selalu menjerembabkan penafsir pada kubangan definisi. Definisi dalam bentuknya paling usang adalah ‘hasil’—thaghut yang dipuja Sokrates sejak awal abad sebelum masehi. Namun saya berusaha tidak buru-buru menyerangnya – karena saya memang tak berkualitas dalam hal tersebut.Definisi mungkin telah layu semenjak kehadiran nihilisme dan anak turunnya berupa posmoderenitas, namun tak pernah benar-benar bermuara pada samudera kehampaan. Di Indonesia kita mengenal nama-nama populer mulai Chairil, Sutardji, hingga Afrizal Malna. Meskipun mereka mengusung afirmasi pembebasan makna, namun afeksi kognitif tetap diusung melalui metafora.Tentu saya tak perlu bertele-tele membahas sejarah penaklukan para elit yang disebut ‘pemimpin’ melalui kata – retorika dan makna. Julius Caesar, Hitler, Gandhi, Soekarno – ah sudahlah. Toh kita telah hidup di jaman periuk nasi hadir dari profesi seperti pengajar, presenter, MC, penyiar, juru bicara, bahkan motivator.Namun jika tong kosong tetap berarti nyaring bunyinya, maka ada baiknya kita menilik lagi – makna kekosongan dalam tuntunan berpuasa pada beberapa agama dan/atau ajaran nyepi agama Hindu.
----------------------------------------------------------------------

Pemilik hak gambar.1.http://wsylvia.files.wordpress.com/2011/06/garbage-can_rgb.jpg2.http://www.uni-lueneburg.de/fb3/kultinfo/personen/warnke/stuff/gamez/action/Therblig.gif

3 comments:

Ayos Purwoaji said...

Oase kekangenan saya pada pemikiran bandenk yang meluap-luap. Sun sik mas.

Nur Wahid Budiono (Bandenk Metaphor) said...

@Ayos: Senthongnya dong :*

Dila Erzakia said...

Lima lilin, 1 usek kepala. Tanpa sun. tapi :* Love this.