2011/08/14

Mari Mencinta

Selalu saja ada apologi kecil-kecilan ketika kita meninggalkan sesuatu yang terlanjur dipandang merupakan kewajiban. Setidaknya kita akan ribet membuat pembenaran atau lebih tepatnya self-defense ketika terlalu lama pulang dari jalan yang lain. Dalam urusan meng-update blog contohnya – sadar dengan jeda yang sah untuk dikatakan terlalu lama, maka segera saja kalimat sejenis “ Wah udah lama ni gak update karena sibuknya rutinitas… bla bla bla” muncul sebagai pembuka. Diakui atau tidak, hal tersebut adalah sensasi penyesalan. Menyesal? Apakah benar demikian adanya? Definitely maybe.

Oh bukan, bukan! Saya sama sekali tak bermaksud membuka paragraf sarkas. Karena saya juga hanyalah bagian dari setiap orang, maka permisi wahai pembaca yang saya muliakan, this will be another cliché, I warned you advance. Hehehehe.

Alasan paling utama adalah jelas, saya akui bahwa saya orang yang sering menemui saat-saat yang terlalu banyak pertimbangan. Amat terlalu mempertimbangkan segala hal dalam melakukan sesuatu. Pertimbangan adalah gejala dari ketakutan yang saya buat-buat sendiri – seperti apakah tulisan saya akan jatuh pada hal cheesy, apakah tulisan saya akan disukai pembaca, apakah tulisan saya sudah menggunakan EYD yang baik dan benar, apakah tulisan saya ini akan bermutu, apakah tulisan saya nanti memiliki kedalaman substansi, dan apakah-apakah lainnya yang akhirnya merenggut makna menulis itu sendiri atau lebih tepatnya nulis di dinding blog iu sendiri.

Alasan berikutnya adalah… hmm well, my blog name is “Love, Hate, Life in The Machine” dengan tagline yang memantapkan bahwa “Ini semua soal emosi yang mendasar dalam hidup”. Jadi, setiap hal yang tertuang pun secara tegas mensyaratkan adanya keterikatan antara emosi saya dengan apa yang akan saya sampaikan. Nah, jika keterikatan emosi telah menjadi syarat, lantas apakah mungkin saya akan menulis untuk blog ini, jika dalam diri saya sedang tidak terjadi pergolakan emosi?

Jawabannya mutlak, TIDAK MUNGKIN saudara-saudara. Saya tidak mungkin menulis untuk blog ini dengan tanpa pergolakan emosi. Atau lebih jelasnya, saya tidak mungkin menulis untuk blog ini, saat hati saya kering. Kering karena tidak merasakan CINTA (Hihihihihi) yang mendebarkan terhadap seseorang (dalam hal ini, lawan jenis :P). Kering juga karena saya tidak merasakan BENCI yang berapi-api terhadap siapapun.

“PICISAN ya kesannya?”. Yeap! Jika kamu berpikir demikian. Dan saya tidak akan menyibukkan diri untuk membuat paragraf bantahan jika dilekati demikian. Karena pada mungkin intinya, saya hanya akan menyediakan paragraf-paragraf pengakuan, bahwa saya sedang jatuh cinta (lagi). Dan paragraf-pragraf ajakan untuk “Mari mencinta”.

Karena setidaknya, cinta lah yang menjadi alasan saya untuk melihat langit bukanlah sekedar langsiran biru tempat bergelantungannya awan yang bergerak, atau pun hitam yang jumud saat ia menutup cahaya bintang-bintang. Cinta jugalah yang membuat saya mendengar secara lebih sabar konsonan maupun disonan gemericik air hujan lebih dari sekedar benda kecil yang menghantam atap kosan saya yang mulai sering bocor.

Eum, tentang ajakan “Mari Mencinta”, saya pernah menulisnya di twitter pada account @bandeenk, tepatnya tanggal 6 Juni lalu (lawas cah...). Semacam twit-series mungkin, dan mendapat respon yang cukup bagus dari beberapa follower. Inilah twit-series tersebut, yang juga saya tetap menyertakan beberapa jawaban saya kepada teman-teman yang menanggapinya -- meskipun saya kesulitan mencari tanggapannya berupa apa itu hahahaha yo ben lah;

• May I talk about #love on this sat-night, lads?

-----------------------------------------------------------------------------
Status tersebut sebagai kalimat pembuka, yang kemudian mendapat beberapa tanggapan positif yang mengharuskan saya bertanggungjawab untuk melanjutkan twit saya. Lalu saya mulai meracau di twitter sebagai berikut ;
------------------------------------------------------------------------------

• Ternyata memang sy hanya jatuh cinta pd wanita yg mampu tidak sepakat dg opini sy, dan dy menang #love

@arlisaiconk tenang! bukan masalah romance kok :P

• Well. Bbrpa #single person melakukan pembelaan dg sjenis "I'm an independent wo/man", dan kemudian menutup perasaan mreka. #love

• #single person jg membela bhwa "This's my life choice". #love

• kasus yg lebih parah sy temui. #single person, mencibir aktivitas relationship adalah buang-buang waktu. #love

• But wait! yg sy utarakan td bukan para #single person yg ttp mencinta even w/out relationship loh ya. hehehehe #love

• Bg yg menganggap bhwa kegiatan loving/being loved adlah wasting time. Hidup kalian ngapain? kejar karir? cari status? cari duit? #love

• Lalu kalo udah pny duit, pnya jabatan, bukankah everybody aim to be happy? #love

@arman_dhani hahahahahahahahhaha. Jgn berhenti dan takut mencinta ya, sayang! :) #love

• Ok, ini bukan serangan. Tp sapaan sayang sy kpd para follower yg bgtu rendah hati untuk tetap jd follower sy. #love

• Selanjutnya sy akan mbahas, why we should have to be in #relationship. #love

• Bagi kalian yg Rockers. Tentu familiar dg (lagi2) "No social revolution w/out personal revolution" - Jim Morrison. #love

• Bagi kalian penganut utopis anarkis, tentu kalian tahu bhwa landasan semua kesadaraan sosial berawal dari cinta. #love

@selly_ros @ip0ell hahahahah Enjoy, #love!

• Kaitan perkataan om Jim td dg #relationship adlah -- Jk tdpat byk pasangan yg slg mencintai, maka akan tercipta dunia yg slg mengerti #love

• #relationship adlah upaya plig mikro dr sebuah bentuk state. karna didalamnya tdpat mekanisme saling awas-mengawasi (panopticon). #love

@frauleinaline thanks, dear! #love

• Pernahkah kalian mengamati teman dekat kalian bhw mereka yg in #relationship (engage/married) slalu lbh baik dlm hal manjemen ego?

• Yah sperti yg sy bilang tadi dlm #relationship ada mekanisme saling berbagi. Setidaknya berlatih berbagi. #love

• Pernahkah kalian jg merasa bhwa org yg kalian taksir berat, tnyata byk jg yg naksir? #love

• Jika pernah, berarti teori keterkaitan alam semesta (multiverse), terbukti BENAR. #love

• Setiap pergerakan materi, akan diikuti pergerakan materi yg lain. Trmasuk dalam hal mencintai seseorang. #love

• Pernahkah kalian mengamati bagaimana kelompok besar ikan yg melakukan perpindahan, mampu berbelok scra bersamaan? #love

• Pernahkah kalian menyelami, mgpa setiap ajakan berubah slalu dikatakan "mulai dari diri sendiri"? #love

• Ok, landasan logika ttg keterkaitan #love,relationship,change,state,dan panopticon sudah sy paparkan dibawah. Slanjutnya, mari kita gabung.

• Bentar! I need to make a cup of coffee :D

• Lanjut ah tentang twit-series #love :D

1) Bagi penganut agama, pasti sepakat dg "Tuhan menciptakan dan memelihara semesta dg cinta" #love.

2) Jika seseorang mencintai apapun dg tulus, maka dy akan mulai bljar berbagi ego. #love

3) jika berbagi ego telah sukses minimal dg pasangan, maka dy tdk kesulitan berbagi ego dg lainnya. Ingat petuah Morrison. #love

4) Dlm skala makro, jika stiap org tlah menerapkan sharing ego, maka gk bakal ada tuh saling mencurangi. #love

5) Tp nyatanya tidak semudah itu membangun state in relationship yag sehat. #love

@yogaslavianarmy ini diluar bahasan Freudian boy!

6) Seringkali kita menyerah dg ketulusan dalam hal mencintai. #love

7) Kemudian kita juga sering lupa untuk melakukan continous improvement thdp diri kita ktika tlh merasa dicintai. #love

8) Stiap pergerakan partikel mjdi senyawa slalu diikuti pgrakan partikel lain, kdg yg mengikutinya menimbulkan gesekan (konflik). #love

9) saat tjdi konflik tersebutlah, seringkali cinta bergeser mjdi jeratan kepentingan hasrat dan sepihak. Hati2x! :D #love

10) Intinya adalah, mencintalah! Jgan takut akan kepedihannya. smakin tercekik, maka kebahagian yg dituai akan lebih indah. sekian #love


Syahdan. Gairah menulis dalam diri saya perlahan mulai bangkit kembali.Sebelum akhirnya saya dibuai mimpi menjadi manusia normal peradaban yang berteknik. Iya, “berteknik”. Teknik bagaimana kamu harus hidup. Teknik bagaimana kamu harus membuat forecast tentang apa-apa yang akan jadi masa depanmu 10-20 tahun lagi. Teknik tentang kendaraan apa yang akan kamu punyai dalam waktu dekat. Teknik tentang bagaimana, kapan, dan dengan siapa kamu akan menikah. Teknik apa pekerjaanmu nanti. Teknik memakai dasi dan jas mahal dalam acara makan malam dengan superclass. Teknik bagaimana membuat investasi untuk masa depan sebelum akhirnya kamu pensiun di usia 60-an.


"Dan teknik menyesal di masa tua karena menunda-nunda melakukan hal-hal yang benar-benar menarik dalam hidup dan saat itu saya tak lagi punya energi untuk melakukannya." (adaptasi dari novel Paulo Coelho)

Ah ya! Regular

2010/09/05

Wuislmustang is LHL inTheMachine Artist of the Month


Andaikan saja ; sebuah perselihan klasik tentang "seni untuk seni vs seni untuk sosial" berada pada titik kulminasi dan tak dapat dipertemukan lagi jalan tengahnya. Kemudian kalian tersudut dengan pameo bahwa menjadi tengah-tengah hanyalah suatu yang cemen, banci, hingga opurtunis. Akan berdiri di sisi manakah kalian?

Oh masih terlalu rumit? Begini, beberapa waktu yang lampau saya mengetahui dua orang teman yang (masih saja) begitu serunya memperdebatkan tentang esensi "Good Music". Teman saya yang satu - ngotot dengan pendapat bahwa musik yang keren haruslah musik yang memberi pesan hingga memiliki andil terhadap suatu perubahan. Sedangkan teman saya yang lainnya berpendapat - mengapresiasi seni ya, tentang mengapresiasi keindahan, begitu pula dengan cara mengapresiasi musik. Dan mereka saling pamer urat leher. hmmmm.

Sedang saya? OK, kalau saya memilih menjadi yang dianggap banci, cemen, hingga oportunis tadi. Opss! Saya punya alasan tentunya. Bagi saya, menjadi tengah berarti kita memiliki pilihan sendiri diantara pilihan yang telah ada (dipaksakan) sebelumnya. Menjadi tengah berarti kita menahan diri dari sekedar ikutan eksis dengan tameng radikalisme.

Ah saya melantur. Padahal awalnya saya hanya ingin membicarakan atau mengenalkan (bagi yang belum kenal) sebuah kelompok cipta/rangkai suara dari negeri Jerman. Mungkin kita akan sedikit ribet menyebut namanya. Mau coba? bacalah ini "WUISLMUSTANG". Yah masih lebih mudah lah ya kalo dibanding dengan nama-nama band yang berasal dari Iceland. hehehe. Wuislmustang adalah Artist of the Month versi LHL inTheMachine. Mereka baru memiliki dua mini album : B- Sides dan Wrong Side Of The Road (2010)


<a href="http://wuislmustang.bandcamp.com/album/b-sides">Affective Advertisement by Wuislmustang</a>

<a href="http://wuislmustang.bandcamp.com/album/wrong-side-of-the-road">Superstar by Wuislmustang</a>

Wuislmustang adalah sebuah jalan tengah yang cukup baik untuk kedua teman saya yang berselisih tadi. Secara estetika seni - apakah kalian ragu jika saya mengatakan sebuah band yang memainkan musik jenis progressive rock adalah musisi dengan skill adiluhung? Pada part tertentu mereka adalah jelmaan Genesis, Rush, hingga Dream Theater. Kerutkan dahi kalian! dan merasalah sebagai orang tolol karena pada part berikutnya kalian akan berkata, kok ini kayak Art-rock, Kraut, akhir Psychedelic ala Pink Floyd, Faust, dan atau Can yaaa. Eh tapi ga juga ding, Folk-rock nya juga ada. Bergumamlah pikiranmu "The Kinks, Neil Young, atau malah jangan-jangan Zeppelin sih?". Hah? bukan-bukan. Ya ampun, this sound's new, sequence dan ambient-nya mirip Post-rock/Indie-rock. Sungguh, sebagai orang yang hobi membandingkan sound, saya telah benar-benar dibuat tolol oleh mereka.

Lantas masalah pesan. *sigh* Bacalah ini kawan!

Warchild

1948 Internal Conflict in Burma 7.000 victims
1991 Somalia, Civil war 400.000 victims
2001 War in Afghanistan 70.000 victims
2003 Iraq War with up to 1.000.000 casualties
The Kivu Conflict in the
democratic republic of Congo and Rwanda 400 victims
2004 The year of war in North-West Pakistan 14.000 victims

war in Yemen and Saudi Arabia 8.000 victims
war in Fiji and Rotuma 500 Victims

2006 Conflict in the Niger Delta, Nigeria unknown Number of victims
Mexican Drug War with over 10.000 victims
2007 Conflict in the Trans Sahara, Senegal 15.000 victims

And the newest war in North Caucasus with 200 victims already!


Penggalan lirik pada lagu Warchild ini dilafalkan dengan intonasi begitu naratif namun provokatif, layaknya sebuah agitate speech seorang korlap demo depan kantor pemerintahan. Oh No No! mereka tidak sampai tataran mengutuk maupun membenarkan "perang" pada lagu tersebut. Karena pada bandcamp Wuislmustang, mereka mengatakan bahwa :

"This track shall make you to think about war. It does not rate war as something good or bad but it does bring up some facts about war. Some facts to think about, to make your own decision possible. No decision if war is something good or bad, more a decision about how to handle with war and its contemporary substance."



Cermati juga semua lirik-lirik di setiap tracks yang juga sama kerennya! Sungguh-sungguh kalian akan mengetahui betapa bijaknya mereka dalam hal menangkap fenomena menjadi gubahan frasa.

***

Wahai temanku penganut musik pesan perubahan. Bukankah engkau ingat dengan sabda yang sangat populer dari sesembahanmu, Jim Morrison? " No social revolution without personal revolution". Renungkan lagi hipotesis Gaia, Prinsip Anthropic, dan Butterfly Effect! Maka akan kamu sadari, bahwa lirik personal itu adalah sangat sosial, dan lirik sosial sangatlah personal.

Dan untuk temanku yang menyembah bentuk-bentuk keindahan. Tunggu dulu! apa guna seniman jika ia hanya membuat emas menjadi sesuatu yang berkilau? Non sense, memang sudah darisana nya emas itu berkilau. Seniman yang abadi adalah yang menjelmakan seonggok batu usang menjadi patung megah, segenggam pasir menjadi keramik mengkilap, dan foto tentang comberan itu sungguh indah. Terangnya, ah saya mulai khawatir kalo kamu mulai menilai karya dari yang telah terhidang, bukan bagaimana sang artis menghasilkannya.

2010/08/23

Bewitching East Java


I'm among of those who believes that traveling is a form of devotion to God, whatever the religion that we hold. So when the Campus holiday has started, impulsively I decided to spend it with a little trip of town out.

East Java was the purpose. Surabaya was the first city I visited. Picked up by Dwi Ardiyanto at Wonokromo station. Then the next days Ayos Purwoaji took me around the Old City, Bungkul park, Ampel region, Suramadu Bridge, until Jember (town of Ayos domicile).

I took some photos which mostly poor results and failed. These are some early pretty decent in my opinion. hehehe. So, for further, let the P(h)oet(o)ry will describe it.


A moment passed by some reasons
An enchanted wandering boy of seasons
The sin of eye follows thunder
The sea of sad is hollow and bitter
________________________________________________________

Hey fellas! You guys so tremendous
Then all of the roads looked pretty stupendous
Where I found the hearts which feel no suspicious
________________________________________________________

The words are in vernacular
When the humble of indigenous so spectacular
_______________________________________________________

Top of hills are so chill
You’ll faint then get unconsciousness
The wises will come after bill
Every Saint must had a weakness



Note :
Especially thanks to Ayos Purwoaji and Dwi Ardiyanto, I'd bothered you many times mates! Nuran Wibisono, Dwi Putri Ratnasari, and Rina Fariana, for a warm friendship. : D