2011/12/27

The 50 Best Movies of 2011 :: Blogs :: List of the Day :: Paste

By Michael Dunaway

50. War Horse

As a story, it’s heavy-handed and sentimental. As a character study, it’s laughably sleight (as with Spielberg’s ET, the most three dimensional character isn’t even human). The score is John Williams in full nudge-nudge-let-me-tell-you-how-to-feel-mode. But there are some moments of real drama, and some irresistibly beautiful imagery—enough to sneak it into our Top 50.


49. Bridesmaids

Kristen Wiig is brilliant. This remains true despite a concerted effort on SNL’s part to make us hate her—a campaign that Lorne Michaels ran consistently since the ‘90s against some of their funniest women. Unlike The Hangover, which was basically a long (but consistently funny) comedy sketch, Bridesmaids is actually a movie. And it’s going to have staying power in the typically bro-dominated pantheon of film comedy.—Ryan Carey


48. Kati with an I

This simple story of a lovestruck high schooler remains one of the more captivating documentaries of the year. Director Robert Greene’s unique perspective as Kati’s step brother is partly responsible, even while his lens maintains a remarkable neutrality. Moments like Kati preparing for graduation, shopping with her boyfriend or hobnobbing with her girlfriends surprisingly make for a compelling tale. And it’s the earlier childhood footage merging with her ascension to young womanhood that brings it all together.—Tim Basham


47. happythankyoumoreplease

Radnor’s tale of seven young New Yorkers searching for love and self-acceptance probably won’t win much praise among elements of the film crowd who require their films to lay bare the darkness and hopelessness of life. It’s not a tortured existential tour de force. But it’s also not the fluffy fare you might expect from a mainstream sitcom star; its emotions are real and handled with depth and sophistication. Anytime there’s a Sundance film this tightly written, this well-acted, this deftly directed, that sends viewers from the theater feeling uplifted and with smiles on their faces, that’s an impressive accomplishment. Of special note is Tony Hale in a decidedly un-Buster Bluth performance. Casting him as Sam #2 took some imagination from Radnor.


46. The Muppets

The filmmakers’ approach overflows with the same adoration as their characters on screen. A wistfully placed camera pan on a wall adorned with vintage banjos and memorabilia carries with it as much emotion as the kinetic dance numbers in the gratifying finale. Even modern touches like a hilarious barbershop cover of Nirvana’s “Smells Like Teen Spirit” embody the original show’s subversive zaniness.—Sean Edgar


45. The Guard

In the end, it’s hard to tell if this movie is really good or just really cute. The buddy/cop element is (thankfully) handled with taste and never gets saccharine. The side-plot about Boyle’s ailing mother is more a cul-de-sac than an avenue, but for all the less-than-thoroughly explored sub-themes, one has to stop and admire the amount of entertainment crammed into a lean hour and a half. It’s refreshing to get an ethnic fish-out-of-water buddy/cop flick that doesn’t beat you over the head with Irish countrysides, endless pub-going, cheesy predictable dialogue, or anything else we clichĂ©-sick entertainment consumers have trouble tolerating. This film treats you like an adult who can still have silly inappropriate fun while still fighting for what’s right.—Ryan Carey


For further reading, please visit the site bellow!

The 50 Best Movies of 2011 :: Blogs :: List of the Day :: Paste


*ini hanyalah merupakan postingan "tjoba-tjoba". Saya mencoba memposting blog seperti layaknya cara kerja pada sosial media bernama "twitter".

2011/11/15

Erupsi Merapi 2010 -- sebuah nostalgia


Pernah ada penulis yang menganalogikan; jika seekor ikan ditanya tentang bagaimana rasanya air, maka ikan akan bertanya, "Air? air yang mana?".

Intinya adalah kita hampir jarang menyadari hadirnya sesuatu yang kita terhubung langsung dengan sesuatu tersebut.

Seperti halnya kita sering tak lagi menyadari betapa "waktu" yang menjadi bagian hidup kita terlenakan.

Telah lebih dari satu tahun yang lalu rupanya, saya terlibat dalam kondisi insiden. Dimana suatu momen yang menakutkan berupa kematian begitu dekat.

Saya merekam beberapa kejadian dengan alat penangkap cahaya ber-diafragma. Beberapa adalah puing yang tak terselamatkan, dan beberapa adalah momen dimana para pengungsi membangun harapan di camp-camp pengungsian.




Update-an ini bagi saya murni sebagai bahan nostalgia. Tanpa ada maksud yang entahlah, saya sendiri tidak memikirkan apa-apa. Sebelum akhirnya file menjadi korup diantara putaran cakeram berat PC saya.

2011/08/27

Idul Libido

Pemilik hak gambar


Nasrudin muncul di balairung istana dengan turban indah untuk meminta sumbangan.

“Kau datang ke sini minta sumbangan, tapi kau memakai turban yang mahal. Berapa harga turban indah itu?” Tanya Sultan.

“Ini hadiah dari orang yang sangat kaya. Kalau tidak salah, harganya lima ratus koin emas.” Jawab sufi bijak tersebut.

Patih yang berada di tempat itu bergumam: “Mustahil. Tidak ada turban yang harganya semahal itu.”

Nasrudin bersikeras:

“Aku bukan hanya datang ke sini untuk meminta-minta, aku juga ingin berbisnis. Aku tahu hanya penguasa sejati yang sanggup membeli turban ini seharga enam ratus koin emas sehingga aku bisa memberikan kelebihannya pada orang miskin.”



Bulan ramadhan yang diwajibkan kaum muslim untuk berpuasa, hampir habis. Tinggal hitungan jari salah satu tangan – kita tahu rutin puasa pada hari-hari bulan ini segera berganti. Idul fitri adalah momentum transisinya. Ia adalah perayaan – sebuah bingar selebrasi atas kembali utuhnya raga setelah bulan yang membuat manusia menjadi “sing liyan” (yang lain) dari fitrah kemanusiannya.

Menahan diri dari makan, minum, nafsu, amarah, hasrat, libido, dsb – sekilas tampak bukan manusiawi. “Seks sama berharganya dengan ajal,” kata Foucault yang menasbihkan bahwa tanpa libido, manusia telah menemui ajal.

Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.Sehingga layak jika diartikan Idul Fitri dengan kembalinya manusia ke tabiat semula.

Iya, tabiat semula – manusia selalu ingin memiliki sesuatu yang dibanggakan. Manusia sering putus asa jika diri mereka tidak terlihat lebih sukses dalam hidup ketimbang orang-orang di lingkungan sosialnya. Lumrah jika momentum pertemuan yang massif namun sporadis di negeri ini, idul fitri contohnya, bak menjadi perayaan peragaan kebanggaan.

Tanpa saya paparkan pun tentu kalian sudah paham luar-dalam. Kalian sudah tahu jika di setiap hari raya ada kerabat yang menanyai pekerjaanmu, sekolahmu, anakmu, gajimu, uangmu, bisnismu, kendaraanmu – yang tentu saja kalian tahu itu adalah basa-basi yang menyerang. Tentunya sang penanya dalam posisi yang lebih jumawa. Setelah kamu menjawab pertanyaan rutin tersebut, barulah kerabatmu akan bercerita tentang bagaimana kesuksesan anak-anaknya disekolah hingga bagaimana mereka telah mampu menghasilkan uang hingga mencapai finance freedom.

Saya menahan diri dari bertele-tele menulis rutinitas lebaran. Karena pada dasarnya, perayaan adalah perayaan – dan yang sedang dirayakan adalah kembalinya sisi kemanusiaan yang serba duniawi.

Kita akan kembali boleh makan, minum, hingga bersenggama dengan pasangan sah, kapan saja seenak perut. Kita akan segera memakai pakaian yang baru saja dibeli dari department store atau pun butik ekslusif untuk menutupi kekurangan-kekurangan kita. Tidak masalah. Namanya juga hari raya. Bebas!

Hasrat memang merupakan anugerah spesial yang dimiliki manusia – dan hari raya seringkali menjadi pengukuh yang membenarkan keberadaannya. Untungnya – Idul Fitri, hingga hari ini masih menjadikan tradisi melapangkan dada, berzakat, dan silaturahim sebagai kaidah utama. Berarti hari raya bukan melulu tentang kebebasan menikmati kembalinya hasrat, namun (semoga) juga menjadi perayaan dari kebebasan diri dari penyakit-penyakit hati – yang akhirnya menjadikan akal sehat adalah anugerah lain manusia yang sepadan dengan hasrat.

___________________________________________

Mendengar paparan Nasrudin, sang Sultan tersanjung dan membayar jumlah yang Nasrudin minta. Di pintu keluar, Nasrudin berkata pada sang Patih:

“Kau mungkin tahu harga sebuah turban, tapi aku tahu seberapa dahsyat dampak kesombongan manusia.”